jump to navigation

He Tian Tay February 2, 2016

Posted by sQ in General:Umum, Literary:Sastra, Poem:Syair (Ind).
Tags:
add a comment

Perempuan paruh baya itu mengendap-endap mencari celah demi menuruti keinginan peminta jasanya
Menebar ancaman pada laki-laki tua, yang terlihat polos dengan keluguannya
Tampaknya ia sangat antusias berperan sebagai pengganti dukun-dukun terdahulu yang jatuh terkapar tak berdaya
Namun, sayang ia tidaklah lebih baik dari nini aking, si pesohor wanita pemikat hati iblis pujaannya

Hanya saja ia lebih diuntungkan, karena setiap saat bisa menggenggam tangan si kebo giro, sang penabur keping durjana dambaannya
Maka, ia terus berkomat-kamit demi membujuk si kebo giro untuk setia memakai jasanya
Kan ku beginikan, kan ku begitukan ujarnya berbusa-busa
Ia sangat paham bahwa kebo giro bukanlah mahluk berakal normal, sebab kerap melakukan tindakan yang amoral

Perempuan paruh baya inipun tak mengira, bahwa si kebo giro sebetulnya tengah menipu dirinya
Sebab kebo giro adalah iblis licik sesungguhnya
Tak ada kegembiraan, jika tak sesuai keinginan, yang tinggal hanyalah kenestapaan
Itulah semboyan kebo giro yang kerap menjerat para mangsanya

Perempuan paruh baya itu tidak sadar, bahwa ia akan menuai badai badar
Sebab ia telah menabur angin merah yang tak segan berbalik arah
Menjalar, menyeruak lalu menusuk tajam dengan amarah menggelegar
Tinggalah kenangan buruk yang akan menyertai kehidupan sang perapal mantra, yang berjuluk He Tian Tay

Batu Cadas dan Dendam Kesumat Si Kebo Giro October 20, 2015

Posted by sQ in Literary:Sastra, Poem:Syair (Ind).
Tags: , , , , , , , , , , ,
add a comment

Tak kenal panas tak kenal hujanstone-ruins
Kebo giro terus menyusuri jalan keangkaramurkaan
Baginya, bermain dalam kegelapan adalah sebuah keharusan
Semata-mata untuk memenuhi hasratnya untuk melepaskan hawa panas dari dalam dirinya

Kebo giro seakan tak sadar, berkali-kali ia telah menabrakan dirinya pada batu cadas
Seolah kokohnya batu cadas hanyalah sebuah fatamorgana
Ia selalu berharap bahwa batu cadas itu tiba-tiba berubah menjadi setumpuk kardus
Setumpuk kardus yang dengan seenaknya bisa ia robek-robek

Kebo giro geram mencari cara agar dendam kesumatnya tak terus menertawakan
Ia menyeringai demi melihat seorang penggemar batu yang ingin dijadikannya sebagai mangsa baru
Sebab calon mangsa dianggapnya sangat lemah dan tak berdaya
Ia dan sekawanan pemburu nyawa berusaha keras menimpakan segala wabah dan bala

Kebo giro berharap bahwa wabah dan bala pada akhirnya akan membuahkan celaka
Celaka yang membawa duka, agar secara perlahan bisa mengikis kekuatan batu cadas
Hingga ia dapat leluasa kembali menebar bibit kedurjanaannya kepada sang kelana
Namun apa daya, tak disangka tak dinyananya, batu cadas itu makin tinggi dan menebal

Sesungguhnya, sabarlah yang menjadi sumber kekuatan tambahan dari kokohnya benteng batu itu
Ia tak pernah peduli dengan segala bentuk kehasadan dan kejahatan si kebo giro
Hingga waktulah yang akan membuktikan bahwa batu cadas itu pada akhirnya akan ikut membuat cerita
Yang menyisakan duka dan nestapa bagi si kebo giro dan kawanan pemburu nyawa yang setia menemaninya hingga perlaya

Jejaring Maut Para Pemburu Nyawa August 30, 2015

Posted by sQ in Literary:Sastra, Poem:Syair (Ind).
Tags: , , , , , ,
add a comment

Mata yang besar tak akan bisa menggantikan kekerdilan hatifish-nets
Begitu pula, raut muka yang nampak terpelihara tak akan bisa menutupi kekotoran jiwa
Sebab segala sesuatu yang tak kasat mata, hakikatnya adalah sumber kekuatan bagi berfungsinya panca indera, bukan sebaliknya
Bagai energi udara yang mengisi lingkaran karet yang memadat hingga ia mampu untuk menggelinding
Yang pasti, setiap perilaku dan tindakan selalu terkait erat dengan keadaan sumber kekuatan hidup itu

Bila niat sudah terpatri dalam hati dan jiwa telah jauh mendorongnya, maka akan sulit bagi seseorang untuk menahan perilakunya
Sebagaimana orang yang kerap mengazamkan sumber keburukan pada dirinya, maka ia akan sulit mengenali kebaikan orang lain
Hingga akan terbukalah seluruh tabir buruknya, bila ia tak pernah berhenti menahan tabiat darah dinginnya yang disertai segala tipu daya, kehasadan dan kekejian dari dalam dirinya
Terlebih bila perilaku buruk itu semata-mata didasarkan pada kepentingan materi
Maka akan tertutuplah seluruh jalan kebaikan pada dirinya

Demikian pula halnya dengan perilaku sang dukun lepus dari tanah priok yang gemar mengumpulkan periuk nasi
Ia tak segan membuat jembatan keburukan dari tanah Jawa ke Sumatera hingga ke daratan Kalimantan
Ia berharap bahwa sumber kekuatan buruk yang ia miliki akan bertambah kuat dengan membuat jejaring maut para pemburu nyawa
Bagai nafsu yang tak terbendung untuk menjaring seekor ikan di segitiga lautan lepas yang tak terkendali
Ia lupa bahwa jejaring maut itu tak sekuat kesabaran sang ikan yang akan mengoyak setiap simpul ikatannya, hingga helaian tali kepedihan yang akan mengakhirinya

Balada Si Rambut Kusut March 17, 2015

Posted by sQ in Literary:Sastra, Poem:Syair (Ind).
Tags: , , , , , , , ,
add a comment

Geeeuuuhhhhhhh…. mulut terbuka geraham terkatup rapatd'kusut
Tangan mengepal pertanda hati sedang kesal
Mata melotot menahan gemuruh amarah
Geeeuuuhhhhhhh…. mulut terbuka geraham terkatup rapat
Tak sepatah katapun sanggup terucap
Langkah telah diayun, tak sudi untuk ditarik kembali

2 warsa telah berlalu, namun tak juga menampakkan kepuasan
Walau beratus keping telah ditebar untuk menutup pintu kabar yang benar
Walau 2 jiwa tersandera demi dijadikan alat pemenuh nafsu angkara
Walau siasat durjana telah disusun sedemikian rupa
Walau perapal mantra tak terlewat untuk dibawa serta
Si rambut kusut tak kan puas bila kemalangan tak jua menjadi berita

Terngiang sudah ocehan si rambut kusut, “aku tak ikut-ikutan, aku jangan dibawa-bawa”
Sungguh tak tahu malu ia berpura-pura, padahal ialah pengarah acara, ialah pemandu rencana
Banyak sudah mahluk lemah yang ia jerumuskan untuk dibawa-bawa
Bersembunyilah ia dibalik batu, bak tempat peraduan sutradara yang enggan turut serta bermain sandiwara
Culas, licik, pengecut, tak bermoral, itulah sifat tersamar si rambut kusut
Menggenapi isi kepalanya yang tak mampu menampung perilaku yang bernalar

Ia lupa bahwa tirai peraduannya tak setebal yang ia kira
Bak hawa kegelapan yang lolos mencari jalan keluar, walaupun peti kepicikan telah ditutup rapat
Ia lupa bahwa jejak kebusukan tak akan mudah untuk dibasuh
Sebab uap busuk mulai memenuhi ruangan sekitar
Ia semakin larut dalam ocehan piciknya yang kian mengeras, “aku tak ikut-ikutan, aku jangan dibawa-bawa”
Padahal sesuatu yang nyata tak mungkin kembali menjadi sebuah fatamorgana

“Dinding Itu Bisa Bicara” March 9, 2015

Posted by sQ in Literary:Sastra, Poem:Syair (Ind).
Tags: , , , , , , , ,
add a comment

“20”, sang kebo menawarAnimAll
Tiga keledai mendengking seakan merobek langit
Mereka bersuara, pertanda sedang lapar
“Enam pintu jalan keluar”, mereka berujar
“10 untuk tiap pintu agar mudah keluar”, sang kebo menakar
Tiga keledai terdiam, tak lagi berhasrat mengeluarkan suara
“5 pertama pada pintu utama”, sang kebo kembali menawar

“40”, sang kebo menawar
Tiga kera mengoceh, menjerit, lalu secepat kilat melompat ke atas pohon pisang
Mereka menggoyang-goyang tandan yang berisi 20 pisang
“Kami mau tandan tersendiri”, mereka berujar
“60 pisang dalam genggaman”, sang kebo kembali menawar
Tiga kera menari-nari kegirangan, layaknya sedang bermain dalam sebuah pertunjukkan doger monyet
“Pastikan jalan keluar terbuka lebar!”, sang kebo mengingatkan

“60”, sang kebo menawar
Tiga ular kobra berdesis, menjulur-julurkan lidah yang bercabang
Kepala mereka mendongak demi menandakan kekuasaan
“Kami bisa tawarkan jalan keluar yang paling menguntungkan”, mereka berujar
“60 rintangan lebur dalam 100 kepingan”, sang kebo kembali menawar
Tiga ular kobra meliuk-liukan tubuh tanda memberi persetujuan
“Kasih sayang kalian akan bertabur kepingan”, sang kebo bersuka cita karena permintaannya dikabulkan

Tiga keledai, tri-balada kera dan trio kobra tak pernah menggunakan hati dan nalar
Mereka jatuh dalam tipu daya sang kebo, untuk bersama-sama menumpang dalam kereta kenistaan
Setali tiga uang dalam kemunafikan
Memperjualbelikan perkara dalam jubah keadilan
Keadilan yang semakin tersembunyi bagi pencari kebenaran
Mereka tak sadar bahwa sesungguhnya “dinding itu bisa bicara”
Dinding yang akan bersaksi dan menuntut para pengadil yang terbukti berperilaku seperti hewan

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: