Kebebasan Yang Tak Beralasan May 29, 2012
Posted by sentuhan qolbu in Poem:Syair (Ind).add a comment
Maka diamlah ia, jika mendapat keuntungan atau kesenangan
Tetapi berteriaklah ia, jika sedikit saja merasa dirugikan
Demi hak azasi ujarnya, tanpa peduli akan hak pihak lain
Sebuah tuntutan yang seakan bisa dikemas tanpa batasan yang jelas
Tak mengindahkan batasan yang seharusnya dipagari oleh nilai-nilai moral
Nilai-nilai moral yang semakin hari tercerabut oleh derasnya arus budaya permisif
Ya, permisivitas yang sangat kuat bersimpul pada kebebasan
Seolah tak menyadari bahwa ia hanya hidup sementara dalam kefanaan alam ini
Bahkan mungkin, ia tak mengetahui apapun tentang dirinya sendiri
Lalu, apa yang akan ia peroleh setelah semuanya tiada?
Apakah ia tidak ingin bertanya-tanya bagaimana ia diciptakan?
Apakah ia hanya secara kebetulan saja terseleksi oleh alam untuk menikmati hidup di dalamnya?
Apakah ia tidak peduli dengan siklus hidup yang mesti dilaluinya?
Apakah ia kira tidak ada Pemilik alam dengan segala isinya ini?
Apakah ia sangka tidak ada aturan hidup yang dibuat oleh Pencipta alam ini?
Apakah ia tidak bisa memahami segala keteraturan yang mengiringi alam ini?
Apakah ia tidak mau mengerti kenapa ia harus malu, jika tak berpakaian?
Siapakah yang menumbuhkan rasa malu itu? rasa senang itu? rasa sedih dan marah itu?
Tidakkah ia seharusnya sadar bahwa ketika menjadi seorang pemimpin, ia mesti menegakkan aturan?
Lalu, dimanakah hak Pemilik alam ini, jika aturan-Nya tak diindahkan?
Kebebasan adalah fatamorgana kehidupan
Seperti oase yang layaknya bisa menghilangkan kedahagaan
Kebebasan adalah tuntunan hidup keduniawian
Dunia yang nyata-nyata ada dalam genggaman kefanaan
Kebebasan hanya memaksakan keakuan
Kebebasan berpotensi menumbuhkan keliaran
Kebebasan hanya bisa ditopang oleh ketidakpedulian
Kebebasan tak terkendali akan menciptakan keserakahan dan ketakberadaban
Ia bukan sebuah azas yang membawa kedamaian dan ketenangan
Cukuplah sudah, kita mengerti bahwa kebebasan adalah sesuatu yang tak beralasan
Dusta Binasa May 16, 2012
Posted by sentuhan qolbu in Poem:Syair (Ind).add a comment
Janganlah mengundang hewan liar ke dalam pekaranganmu
Apatah lagi seekor binatang buas yang rakus mencari mangsa
Berhati-hatilah dalam berpendapat
Sebab mata hati lebih tajam dari pandangan yang menyesatkan
Diamlah jika tak perlu berkata-kata
Sebab perut kosong kadang terdengar nyaring meminta-minta
Tak peduli ia diisi makanan yang baik ataupun tidak
Hingga tak sadar membuat rasa malu menjadi menderita
Tahanlah diri dari berkata dusta
Walaupun merusak tubuh bukanlah merupakan sifatnya
Ia hanya gemar mencari sesuatu yang lemah karena kodratnya
Hingga diri pun hina binasa karenanya
Ya Habiballah May 2, 2012
Posted by sentuhan qolbu in Poem:Syair (Ind).add a comment
Seorang laki-laki agung berdiri mempesona
Kusaksikan ia seakan hadir di hadapanku
Menyapaku dengan kemuliaannya
Sinar rembulan bak terpancar dari wajahnya yang berseri-seri
Sederet pualam putih berkilau kusaksikan menghiasi senyum keberkahannya
Ku menatap tertegun melihat keelokan rupa sang kekasih Allah
Tak kuasa untuk sekedar menyapa, bertanya, ataupun berkata-kata
Ia begitu mulia
Memandangnya adalah sebuah keberkahan
Terkesima dengan sosoknya yang gagah dan berwibawa
Sungguh ciri-ciri seorang manusia agung yang kupersaksikan
Menyimak apa-apa yang beliau tunjukkan
Walaupun ku belum cukup mengerti apa yang harus diindahkan
Seorang wanita berhijab terlihat hadir kemudian
Meyakinkanku bahwa Rasulullah adalah cahaya yang hidup
Seolah kumengerti bahwa kita dapat menyapanya kapanpun hendak melakukannya
Shalawat dan salam senantiasa tercurah untuknya
Yang tak terputus hingga akhir zaman
Ya Nabi salam ‘alaika
Ya Rasul salam ‘alaika
Ya Habib salam ‘alaika
Shalawatullah ‘alaika
Meminjam Dari Yang Dikembalikan March 18, 2012
Posted by sentuhan qolbu in a-Whiting:se-Kapur Sirih.add a comment
Semua bagian dari hidup ini adalah pinjaman. Bagaimana tidak? Ya, coba kita pahami satu persatu. Raga, jiwa, akal, kepandaian, keterampilan, nafkah hidup, air, bahkan asupan nafaspun bukanlah menjadi bagian yang berhak kita miliki. Sepenuhnya seluruh bagian hidup ini adalah menjadi milik Allah swt, sang Pencipta segala sesuatu, tanpa terkecuali. Dia-lah yang meminjamkan kepada mahluk-Nya untuk dipergunakan sebagaimana yang dikehendaki-Nya.
Raga dan jiwa berguna bagi kita untuk hidup, untuk bergerak dan beraktivitas dalam kefanaan alam ini. Akal untuk menumbuhkan segala macam kepandaian dan keterampilan, dari sejak buaian hingga akhir hayat. Nafkah sebagai hasil nyata dari aktivitas hidup, terutama untuk mahluk yang berakal. Sebagaimana kita sadar dalam keseharian bahwa kita kerap berkutat untuk memupuk satu persatu harta benda yang layaknya cukuplah dinikmati sepanjang hayat masih dikandung badan. Juga, air sebagai sumber utama dalam kehidupan setiap mahluk hidup. Demikian pula, asupan nafas yang tersebar secara bebas guna memfungsikan seluruh organ dalam raga kita.
Mengapa semua itu dipinjamkan? Tidak lain agar kita sadar bahwa hidup ini ada yang memiliki dan mengatur. Lalu bagaimana kita bisa sadar karenanya? Disinilah arti penting pengenalan diri, pengenalan Pemilik diri, pengenalan hubungan antara yang dimiliki dan Yang Memiliki. Mengenali pelajaran dan pesan dari seluruh kejadian hidup yang terjadi. Mengenali arti penting kewajiban mengembalikan segala sesuatu yang dipinjam. Bahkan mungkin akan terus menerus meminjam dari yang dikembalikan. (more…)
Gurita Naar Kutuk March 18, 2012
Posted by sentuhan qolbu in Poem:Syair (Ind).add a comment
Rupanya sang Gurita tak ingin tinggal diam
Bergegaslah ia menyemburkan cairan hitam dengan leluasa ke berbagai arah
Dengan sekehendak ia mengaburkan dan menutupi segala bentuk jalan kebaikan
Seakan sinar mentari dan benderang bintang pun tak sanggup untuk menembus kepekatan gelembung-gelembung kenistaan
Tinggalah biduk berlayar, berbelok-belok haluan tak menentu tujuan
Seakan hilang segala bentuk panduan yang mestinya diikuti para awak sepanjang perjalanan
Tanpa panduan…
Telah nampak keburukan mengalahkan kebajikan
Telah nampak kerusakan menutupi kemakmuran
Telah nampak kesukaran menenggelamkan kemudahan
Telah nampak kegilaan menertawakan kesadaran
Telah nampak kematian nurani mendahului kelahiran ahlak mulia
Gerangan apa yang sedang terjadi kini?
Akankah sisa hidup ini digiring kepada lumbung kenistaan?
Yaitu tempat berlomba saling silang para pencari Naar sang raja kedurjanaan
Ataukah tak lagi peduli bila kutuk dan ajal datang menghampiri dengan tiba-tiba?

